
Rasanya sulit bagi Tuti untuk memaafkan Siska, apalagi untuk melupakan kejadian itu. Bayangkan saja bagaimana rasanya bila sesuatu yang sangat kita sayangi rusak karena orang lain. Memang hal itu terjadi secara tidak sengaja…
“Tut, punya penghapus?” tanya siska ketika mereka sedang sibuk mengerjakan tugas matematika.
“Ada, tapi penghapus pensil,” jawab Tuti tanpa bergerak dari soal yang dihadapinya.
Tuti lalu melihat Siska mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Mereka memang duduk sebangku dikelas itu.
“Tut, ini foto siapa?,” tanya siska sambil mengamati wajah pada foto tersebut.
“Aduh jangan sis! Kembalikan!” ucap Tuti.
“Sebentar, kuingin melihat!,”ucap Siska masih tetap memperhatikan foto itu
“Cepat kembalikan!,” jawab Tuti sambil berusaha merebut foto tersebut dari tangan Siska. Wreeeeeekkkk…….. Oh! Foto itu sobek.
Dengan hati kesal dan tanpa berkata apa-apa, Tuti merebut foto itu dan cepat-cepat memesukannya ke dalam tas. Ingin rasanya dia menangis, kalau saja saat itu dia tidak sedang berada di kelas.
“Maafkan aku, Tut,” ucap Siska dengan nada penuh penyesalan.
Tuti tak menjawab. Dia pura-pura sibuk mengerjakan tugas matematika.
Melihat Tuti diam saja, Siska sekali lagi berkata, “kau marah ya, Tut? Maaf deh! Aku tak sengaja. Aku hanya ingin melihat sebentar!”
Tuti tetap tak membalasnya. Hati Tuti semakin sedih.
Bagaimana tidak, foto itu adalah satu-satunya benda yang dapat menghapus rasa rindu pada papanya. Foto yang setia mendampinginya sampai dia kelas 6. Papa Tuti meninggal ketika Tuti baru duduk di kelas 1.
Sampai bel pulang berbunyi, Tuti tetap tak mau bicara dengan siska. Memandangnya pun tidak. Tuti keluar tanpa memperhatikan Siska. Tentu saja, Siska menjadi bingung dengan sikap Tuti tersebut.
“Tut, tunggu!” teriak Siska sambil berusaha mengejar Tuti.
Tuti tetap tak memperdulikannya. Rasanya dia ingin cepat sampai di rumah dan memeluk foto itu
“Tut, Tuti! Makan dulu!” panggilan mama menyadarkan Tuti dari lamunannya. Tetapi, Tuti tak menjawab panggilan dari mamanya. Dia cepat-cepat menghapus air matanya.
“Tut, ayo makan dulu nanti penyakit magg mu kambul lagi!”ujar mama yang masuk kekamar Tuti.
“Lho, kenapa? Habis menagis, ya?”
Tuti Cuma menggeleng,
“ kamu bertengkar dengan teman mu?” tanya mama lagi sambil duduk di dekat Tuti
Tuti tak menjawab. Dia meperlihatkan foto yang sobek itu.
“lho, foto sobek saja menangis?” seraya tersenyum mama menanggapi perihal foto yang sobek itu.
“bukan begitu masalahnya, ma!” akhirnya Tuti mau juga berbicara
“lalu kenapa?”tanya mama
“Tuti lalu menceritakan semua kejadiannya hari itu. Ia berharap mama sependapat bahwa Siska bersalah. Mama cuma tersenyum ketika Tuti selesai bercerita.
“Tut, mama kecewa padamu! Ternyata, kamu masih belum mampu bersikap dewasa.”
“maksud mama?” tanya Tuti tak mengerti.
“secara tak sadar kamu telah melakukan dua kesalahan.
“Tut, punya penghapus?” tanya siska ketika mereka sedang sibuk mengerjakan tugas matematika.
“Ada, tapi penghapus pensil,” jawab Tuti tanpa bergerak dari soal yang dihadapinya.
Tuti lalu melihat Siska mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Mereka memang duduk sebangku dikelas itu.
“Tut, ini foto siapa?,” tanya siska sambil mengamati wajah pada foto tersebut.
“Aduh jangan sis! Kembalikan!” ucap Tuti.
“Sebentar, kuingin melihat!,”ucap Siska masih tetap memperhatikan foto itu
“Cepat kembalikan!,” jawab Tuti sambil berusaha merebut foto tersebut dari tangan Siska. Wreeeeeekkkk…….. Oh! Foto itu sobek.
Dengan hati kesal dan tanpa berkata apa-apa, Tuti merebut foto itu dan cepat-cepat memesukannya ke dalam tas. Ingin rasanya dia menangis, kalau saja saat itu dia tidak sedang berada di kelas.
“Maafkan aku, Tut,” ucap Siska dengan nada penuh penyesalan.
Tuti tak menjawab. Dia pura-pura sibuk mengerjakan tugas matematika.
Melihat Tuti diam saja, Siska sekali lagi berkata, “kau marah ya, Tut? Maaf deh! Aku tak sengaja. Aku hanya ingin melihat sebentar!”
Tuti tetap tak membalasnya. Hati Tuti semakin sedih.
Bagaimana tidak, foto itu adalah satu-satunya benda yang dapat menghapus rasa rindu pada papanya. Foto yang setia mendampinginya sampai dia kelas 6. Papa Tuti meninggal ketika Tuti baru duduk di kelas 1.
Sampai bel pulang berbunyi, Tuti tetap tak mau bicara dengan siska. Memandangnya pun tidak. Tuti keluar tanpa memperhatikan Siska. Tentu saja, Siska menjadi bingung dengan sikap Tuti tersebut.
“Tut, tunggu!” teriak Siska sambil berusaha mengejar Tuti.
Tuti tetap tak memperdulikannya. Rasanya dia ingin cepat sampai di rumah dan memeluk foto itu
“Tut, Tuti! Makan dulu!” panggilan mama menyadarkan Tuti dari lamunannya. Tetapi, Tuti tak menjawab panggilan dari mamanya. Dia cepat-cepat menghapus air matanya.
“Tut, ayo makan dulu nanti penyakit magg mu kambul lagi!”ujar mama yang masuk kekamar Tuti.
“Lho, kenapa? Habis menagis, ya?”
Tuti Cuma menggeleng,
“ kamu bertengkar dengan teman mu?” tanya mama lagi sambil duduk di dekat Tuti
Tuti tak menjawab. Dia meperlihatkan foto yang sobek itu.
“lho, foto sobek saja menangis?” seraya tersenyum mama menanggapi perihal foto yang sobek itu.
“bukan begitu masalahnya, ma!” akhirnya Tuti mau juga berbicara
“lalu kenapa?”tanya mama
“Tuti lalu menceritakan semua kejadiannya hari itu. Ia berharap mama sependapat bahwa Siska bersalah. Mama cuma tersenyum ketika Tuti selesai bercerita.
“Tut, mama kecewa padamu! Ternyata, kamu masih belum mampu bersikap dewasa.”
“maksud mama?” tanya Tuti tak mengerti.
“secara tak sadar kamu telah melakukan dua kesalahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar